Materi Urgensi Pancasila
Ø Dalam
perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sesungguhnya nilai-nilai Pancasila sebagai
pandangan hidup bangsa sudah terwujud dalam kehidupan bermasyarakat sejak
sebelum Pancasila sebagai dasar negara dirumuskan dalam satu sistem nilai.
Sejak zaman dahulu, wilayah-wilayah di nusantara ini mempunyai beberapa nilai
yang dipegang teguh oleh masyarakatnya, sebagai contoh:
- Percaya kepada Tuhan dan toleran.
- Gotong royong.
- Musyawarah.
- Solidaritas atau kesetiakawanan sosial, dan sebagainya.
Ø Munculnya
permasalahan yang mendera Indonesia, memperlihatkan telah tergerusnya
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Oleh karena itu, perlu diungkap berbagai permasalahan di negeri tercinta ini
yang menunjukkan pentingnya mata kuliah pendidikan Pancasila.
- Masalah
Disintegrasi Bangsa
Demokratisasi mengalir dengan deras menyusul terjadinya reformasi
di Indonesia. Di samping menghasilkan perbaikan-perbaikan dalam tatanan Negara
Republik Indonesia, reformasi juga menghasilkan dampak negatif, antara lain
terkikisnya rasa kesatuan dan persatuan bangsa. Sebagai contoh acapkali
mengemuka dalam wacana publik bahwa ada segelintir elit politik di daerah yang
memiliki pemahaman yang sempit tentang otonomi daerah. Mereka terkadang
memahami otonomi daerah sebagai bentuk keleluasaan pemerintah daerah untuk
membentuk kerajaan-kerajaan kecil. Implikasinya mereka menghendaki daerahnya diistimewakan
dengan berbagai alasan. Bukan itu saja, fenomena primordialisme pun terkadang
muncul dalam kehidupan masyarakat. Beberapa kali Anda menyaksikan di berbagai
media massa yang memberitakan elemen masyarakat tertentu memaksakan kehendaknya
dengan cara kekerasan kepada elemen masyarakat lainnya. Berdasarkan laporan
hasil survei Badan Pusat Statistik di 181 Kabupaten/Kota, 34 Provinsi dengan
melibatkan 12.056 responden sebanyak 89,4 % menyatakan penyebab permasalahan
dan konflik sosial yang terjadi tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman dan
pengamalan nilai-nilai Pancasila (Dailami, 2014:3).
Dewasa ini, fenomena materialisme, pragmatisme, dan hedonisme
makin menggejala dalam kehidupan bermasyarakat. Paham-paham tersebut mengikis
moralitas dan akhlak masyarakat, khususnya generasi muda. Fenomena dekadensi
moral tersebut terekspresikan dan tersosialisasikan lewat tayangan berbagai
media massa. Perhatikan tontonan-tontonan yang disuguhkan dalam media siaran
dewasa ini. Begitu banyak tontonan yang bukan hanya mengajarkan kekerasan,
melainkan juga perilaku tidak bermoral seperti pengkhianatan dan perilaku
pergaulan bebas. Bahkan, perilaku kekerasan juga acapkali disuguhkan dalam
sinetron-sinetron yang notabene menjadi tontonan keluarga. Sungguh ironis,
tayangan yang memperlihatkan perilaku kurang terpuji justru menjadi tontonan
yang paling disenangi. Hasilnya sudah dapat ditebak, perilaku menyimpang di
kalangan remaja semakin meningkat.
Dilihat dari segi letak geografis, Indonesia merupakan negara yang
strategis. Namun, letak strategis tersebut tidak hanya memiliki dampak positif,
tetapi juga memiliki dampak negatif. Sebagai contoh, dampak negatif dari letak
geografis, dilihat dari kacamata bandar narkoba, Indonesia strategis dalam hal
pemasaran obat-obatan terlarang. Tidak sedikit bandar narkoba warga negara
asing yang tertangkap membawa zat terlarang ke negeri ini. Namun sayangnya,
sanksi yang diberikan terkesan kurang tegas sehingga tidak menimbulkan efek
jera. Akibatnya, banyak generasi muda yang masa depannya suram karena kecanduan
narkoba. Berdasarkan data yang dirilis Kepolisian Republik Indonesia (POLRI)
tahun 2013, POLRI mengklaim telah menangani 32.470 kasus narkoba, baik narkoba
yang berjenis narkotika, narkoba berjenis psikotropika maupun narkoba jenis
bahan berbahaya lainnya. Angka ini meningkat sebanyak 5.909 kasus dari tahun
sebelumnya. Pasalnya, pada tahun 2012 lalu, kasus narkoba yang ditangani oleh
POLRI hanya sebanyak 26.561 kasus narkoba.
- Masalah
Penegakan Hukum yang Berkeadilan
Salah satu tujuan dari gerakan reformasi adalah mereformasi sistem
hukum dan sekaligus meningkatkan kualitas penegakan hukum. Memang banyak faktor
yang berpengaruh terhadap efektivitas penegakan hukum, tetapi faktor dominan
dalam penegakan hukum adalah faktor manusianya. Konkretnya penegakan hukum
ditentukan oleh kesadaran hukum masyarakat dan profesionalitas aparatur penegak
hukum. Inilah salah satu urgensi mata kuliah pendidikan Pancasila, yaitu meningkatkan
kesadaran hukum para mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa.
Salah satu masalah besar yang dihadapi Indonesia saat ini adalah
terorisme. Asal mula dari kelompok terorisme itu sendiri tidak begitu jelas di
Indonesia. Namun, faktanya terdapat beberapa kelompok teroris yang sudah
ditangkap dan dipenjarakan berdasarkan hukum yang berlaku. Para teroris
tersebut melakukan kekerasan kepada orang lain dengan melawan hukum dan
mengatasnamakan agama. Mengapa mereka mudah terpengaruh paham ekstrim tersebut?
Sejumlah tokoh berasumsi bahwa lahirnya terorisme disebabkan oleh himpitan
ekonomi, rendahnya tingkat pendidikan, pemahaman keagamaan yang kurang
komprehensif terkadang membuat mereka mudah dipengaruhi oleh keyakinan ekstrim
tersebut. Agama yang sejatinya menuntun manusia berperilaku santun dan penuh
kasih sayang, di tangan teroris, agama mengejawantah menjadi keyakinan yang
bengis tanpa belas kasihan terhadap sesama.
Ø Urgensi
pendidikan Pancasila di perguruan tinggi, yaitu agar mahasiswa tidak tercerabut
dari akar budayanya sendiri dan agar mahasiswa memiliki pedoman atau kaidah
penuntun dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dengan
berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Selain itu, urgensi pendidikan Pancasila,
yaitu dapat memperkokoh jiwa kebangsaan mahasiswa sehingga menjadi dorongan
pokok (leitmotive) dan bintang penunjuk jalan (leitstar) (Abdulgani, 1979: 14).
Urgensi pendidikan Pancasila bagi mahasiswa sebagai calon pemegang tongkat
estafet kepemimpinan bangsa untuk berbagai bidang dan tingkatan, yaitu agar
tidak terpengaruh oleh paham-paham asing yang negatif. Dengan demikian, urgensi
pendidikan Pancasila di perguruan tinggi dengan meminjam istilah Branson
(1998), yaitu sebagai pembentuk civic disposition yang dapat menjadi landasan
untuk pengembangan civic knowledge dan civic skills mahasiswa. Hal ini berarti
mata kuliah Pancasila merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan student centered learning, untuk mengembangkan knowledge, attitude,
dan skill mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa dalam membangun jiwa
profesionalitasnya sesuai dengan program studinya masing-masing, serta dengan
menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai kaidah penuntun (guiding principle)
sehingga menjadi warga negara yang baik (good citizenship).
Sumber: https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/mkwu/8-PendidikanPancasila.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar